FAKTOR INTERNAL PEMBELAJARAN

  1. A.      PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang

            Pembelajaran adalah suatu proses untuk merubah perilaku peserta didik. Dalam pembelajaran terjadi suatu proses panjang agar tujuan yang dicapai memenuhi harapan yang ingin dicapai. Pembelajaran yang menjadikan peserta didik  dapat merubah perilaku terkadang memiliki beberapa kendala sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak mengalami perubahan. Pendidik sebagai penggerak dalam dimensi pembelajaran memiliki peran yang amat penting untuk mengetahui kondisi peserta didik dalam melakukan tugasnya sebagai pentrasfer ilmu pengetahuan sekaligus memberikan pengalaman.

Supaya pembelajaran berjalan dengan lancar, pendidik memiliki tugas mengetahui kondisi peserta didik yang terangkum dalam faktor-faktor pembelajaran baik itu dalam diri peserta didik maupun kondisi yang terdapat pada peserta didik. Berangkat dari latar belakang ini maka perlu pemakalah menjabarkan faktor-faktor internal pembelajaran yang harus diketahui oleh para pendidik guna memberikan pemahaman yang mendalam akan pentingnya mengetahui faktor apa saja yang mendukung pembelajaran di dalam diri peserta didik.

  1. Rumusan Masalah
  1. Apa definisi pembelajaran?
  2. Apa saja faktor-faktor internal yang mempengaruhi pembelajaran ?
  1. Tujuan
  1. Mengetahui definisi dari pembelajaran
  2. Mengetahui faktor-faktor internal yang mempengaruhi pembelajaran

 

  1. B.       PEMBAHASAN
  1. Pengertian Pembelajaran

Dalam pembelajaran, situasi atau kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dikembangkan terlebih dahulu oleh guru. Pembelajaran atau proses pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar di mana di dalamnya terjadi interaksi guru dan siswa dan antara sesama siswa untuk mencapai suatu tujuan yaitu terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku siswa.

Pembelajaran berupaya mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik, menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan. Demikian pula siswa yang memiliki sikap, kebiasaan, dan tingkah laku yang belum mencerminkan eksistensi dirinya sebagai pribadi yang baik atau positif, menjadi siswa yang memiliki sikap, kebiasaan dan tingkah laku. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila di dalam dirinya telah terjadi perubahan, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran, hasil belajar dapat dilihat secara langsung.  Oleh sebab itu agar dapat dikontrol dan berkembang secara optimal melalaui proses pembelajaran di kelas, maka program pembelajaran tersebut harus dirancang terlebih dahulu oleh guru dengan memperhatikan berbagai prinsip yang telah terbukti keunggulannya secara empirik.[1]

  1. Faktor Internal Pembelajaran

Faktor internal pembelajaran adalah faktor yang terdapat dalam diri siswa sendiri dalam mendapatkan hasil belajar yang diinginkan. Untuk mengetahui faktor internal ini terdapat dua aspek yang mendukung suatu proses pembelajaran yakni Aspek Fisiologis (yang bersifat jasmaniah) dan Aspek Psikologi (yang bersifat rohaniah).

  1. Aspek Fisiologis

Kemampuan umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. [2]

Adapun menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya Psikologi Belajar dengan mengutip pendapat Noehi Nasution, dkk (1993: 6), kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi; mereka lekas lelah, mudah mengantuk, dan sukar menerima pelajaran. [3]

Selain itu, menurut Noehi, hal yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra (mata, hidung, telingga, pengecap, dan tubuh), terutama mata sebagai alat untuk melihat dan telingga untuk mendengar. Sebagian besar dipelajari manusia (anak) yang belajar berlangsung dengan membaca, melihat contoh, atau model, melakukan observasi, mengamati hasil-hasil eksperimen, mendengarkan keterangan guru, mendengarkan ceramah, dan sebagainya.[4]

Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah pada fisik maka pihak sekolah dapat berkerja sama dalam melakukan pemeriksaan secara periodik untuk memperoleh bantuan dari dinas-dinas kesehatan setempat.

Hal pencegahan ini diperlukan dalam mengatasi aspek fisiologi karena tubuh manusia memainkan perananya dalam berinteraksi langsung untuk menerima pelajaran di dalam kelas ataupun dilingkungan belajar seperti lingkungan belajar di sekolah, lingkungan belajar di masyarakat, dan lingkungan keluarga yang menjadi pendukung utama pendidikan.

Aspek fisiologi ini juga diakui mempengaruhi pengelolaan kelas. Pengajaran dengan pola klasikal perlu memperhatikan tinggi rendahnya postur tubuh anak didik. Postur tubuh yang tinggi ditempatkan pada posisi duduk di belakang sedangkan postur tubuh yang pendek diletakkan di depan, hal ini diperlukan guna mendapatkan konsentasi belajar sehingga tidak terjadi kesulitan belajar yang disebabkan tidak terlihatnya anak didik yang memiliki postur lebih rendah apabila di posisikan di belakang dalam melihat penjelasan guru. Demikian juga pada pengelompokkan belajar siswa yang memiliki jenis yang sama seperti anak didik perempuan di kelompokkan pada kelompok sejenis dan sebaliknya. Pengelompokkan ini untuk meredam gejolak nafsu birahi untuk anak didik yang sedang meningkat ke usia remaja, di mana masa ini termasuk pancaroba, yang cenderung memiliki emosi yang tak terkendali.

  1. Aspek Psikologis

Banyak faktor yang mempengaruhi aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas peroleh belajar siswa. Namun, di antar faktor-faktor rohaniah siswa  yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut : 1) tingkat kecerdasan/ inteligensi siswa: 2) minat : 3) bakat : 4) sikap siswa : 5) motivasi

1)      Inteligensi Siswa

Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara tepat (Reber, 1988). Jadi, inteligensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hamper seluruhaktivitas manusia.[5]

Sedangkan para ahli telah sepakat bahwa semakin meningkat umur seseorang semakin dewasa pula cara berpikirnya. Dan hal ini lebih mengukuhkan pendapat yang mengatakan bahwa kecerdasan dan umur mempunyai hubungan yang sangat erat. Perkembangan berpikir seseorang dari yang konkret ke yang abstrak tidak bisa dipisahkan dari perkembangan inteligensinya. Semakin meningkat umur seseorang semakin abstrak cara berpikirnya.[6]

Tingkat kecerdasan atau inteligensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan inteligensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah keamampuan inteligensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses.[7]

Selanjutnya, di antara siswa-siswa-yang mayoritas berinteligensi normal itu-mungkin terdapat satu atau dua orang yang tergolong gifted child atau talented child, yakni anak sangat cerdas dan anak sangat berbakat (IQ di atas 130). Disamping itu, mungkin ada pula siswa yang berkecerdasan di bawah batas rata-rata (IQ ke bawah).[8]

Raden Cahaya Prabu (1986: 45) mengatakan bahwa anak-anak yang taraf inteligensinya di bawah rata-rata, yaitu dull normal, debil, embicil, dan idiot sukar untuk sukses dalam sekolah. Mereka tidak akan mencapai pendidikan tinggi karena kemampuan potensinya terbatas. Sedangkan anak-anak yang taraf intelingensinya normal, di atas rata-rata seperti superior, gifted atau genius, jika saja lingkungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan pendidikannya turut menunjang, maka mereka akan dapat mencapai prestasi dan keberhasilan dalam hidupnya.

Anak giffed diklasifikasikan dalam dua golongan, yaitu: Pertama, extreemely gifted child (genius) dengan taraf inteligensi 160-200. Kedua, superior child yang mempunyai taraf inteligensi antara 125-160.[9]

Akhirnya pembahasan ini bermuara pada kesimpulan, bahwa kecerdasan merupakan salah satu faktor dari sekian banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar di sekolah.

2)      Minat

Secara sederhana, minat (interest) berarti kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.[10] Adapun minat, menurut Slameto (1991: 182), adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.[11]

Timbulnya minat belajar disebabkan berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah (Dalyono, 1997: 56).[12]

Cara untuk menimbulkan minat anak didik terhadap sesuatu dengan memahami kebutuhan anak didik dan melayani kebutuhan anak didik adalah salah satu upaya membangkitkan minat anak didik. Dalam penentuan jurusan harus disesuaikan dengan minat anak didik. Jangan dipaksakan agar anak didik tunduk pada kemauan guru untuk memilih jurusan lain yang sebenarnya anak didik tidak berminat. Dipaksakan juga pasti akan sangat merugikan anak didik. Anak didik cenderung malas belajar untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak disukainya. Anak didik pasrah pada nasib dengan nilai apa adanya (Nasution, 1993: 7).[13]

Tanner dan Tanner (1975) menyarankan agar para pengajar juga berusaha membentuk minat-minat baru pada diri anak didik. Ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi pada anak didik mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang kegunaanya bagi anak didik di masa yang akan datang. Rooijakkers (1980) berpendapat hal ini dapat pula dicapai dengan cara menghubungkan bahan pengajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan anak didik.[14]

Bila usaha-usaha di atas tidak berhasil, guru dapat memakai insentif dalam usaha mencapai tujuan pengajaran. Insentif merupakan alat yang dipakai untuk membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang tidak mau melakukannya atau yang tidak dilakukanya dengan baik. Diharapkan pemberian insentif akan membangkitkan motivasi anak didik dan mungkin minat terhadap bahan yang diajarkan akan muncul.[15]

Slameto berkesimpulan bahwa minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Dengan kata lain, Slameto ingin mengatakan bahwa minat dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada diri seorang anak didik. Yang caranya disampaikan oleh Tanner & Tanner di atas.[16]

Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat anak didik yang telah ada.

3)      Bakat

Bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin, 1972; reber, 1988).[17] Menurut Sunarto & Hartono, bakat memang diakui sebagi kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau latihan.[18] Dalam kenyataannya bakat tidak jarang ditemukan pada lingkungan yang kreatif. Di samping itu juga, bakat dapat diperoleh dari bakat bawaan yakni bakat yang terdapat dari keluarga yang memiliki garis keturunan dari ayah atau ibu. Istilah darah seni yang mengalir  di dalam tubuh seorang anak dan menyebabkan anak pandai menyanyi dan menyenanginya karena anak dididik dan dilatih adalah karena faktornya orang tuanya sesorang penyanyi.

Selain itu, Sunarto & Hartono juga mengatakan bahwa bakat  memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar bakat itu dapat terwujud.

Dua faktor yang ikut mempengaruhi perkembangan bakat menurut Syaiful  dalam bukunya Psikologi Pendidikan yaitu,

  1. Faktor anak itu sendiri, misalnya anak tidak atau kurang berminat untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi, sehingga ia mengalami hambatan dalam pengembangan diri  dan prestasi sesuai dengan bakatnya.
  2. Lingkungan anak sebagai faktor di luar anak, bisa menjadi penghalang perkembangan bakat anak. Misalnnya, orang tuannya kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan, atau ekonominya cukup tinggi, tetapi kurang memberikan perhatian pendidikan anak.[19]

Bertolak dari persoalan bakat ini kemudian muncullah istillah “anak berbakat”. Yang dimaksud dengan anak berbakat ialah mereka yang mempunyai bakat dalam derajat tinggi dan bakat-bakat yang unggul.[20] Secara global bakat itu mirip inteligensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berinteligensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.[21]

Menurut Vernon (1977) seperti dikutip Utami (1982: 18) sejauh mana bakat-bakat pembawaan tersebut dapat diwujudkan tergantung dari kondisi dan kesempatan yang diberikan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat.[22] Banyak anak yang potensial berbakat tidak dapat mewujudkan keunggulanya karena lingkungan mereka menghambat pertumbuhan intelektual secara optimal.

4)      Sikap Siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecendrungan untuk mereaksi atau merespon (respon tendency) dengan cara relatif tetap terhadap obyek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.[23] Menurut Bruno (1987), sikap (attitude) adalah kecendrungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Dengan demikian, pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecendrungan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu.[24]

Sikap siswa yang positif, terhadap guru akan terlihat pada pertanda awal mata pelajaran yang guru sajikan dari proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap guru dan mata pelajaran terjadi bila diiringi oleh sikap kebencian kepada guru dan kepada mata pelajaran yang dibawakannya dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.

Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif siswa seperti tersebut di atas, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya. Dalam hal bersikap positif terhadap mata pelajarannya, seorang guru sangat dianjurkan untuk sentiasa menghargai dan mencintai profesinya.

5)      Motivasi

Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organism yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah (Gleitman, 1986; Reber,1988)[25]

Adapun bentuk motivasi belajar di Sekolah dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

a)      Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar.[26] Dalam buku lain motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar, misalnya: ingin memahami suatu konsep, ingin memperoleh pengetahuan dan sebagainya.[27]

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan motivasi intrinsik adalah:

a. Adanya kebutuhan

b. Adanya pengetahuan tentang kemajuan dirinya sendiri

c. Adanya cita-cita atau aspirasi.[28]

b)      Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang datang dari luar individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.[29]  Bentuk motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya, pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan lain-lain merupakan contoh konkrit dari motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.

Dalam perspektif kognitif, motivasi intrinsik lebih signifikan bagi siswa karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain.

Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting, karena kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga siswa tidak bersemangat dalam melakukan proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di rumah.

Bahwa setiap siswa tidak sama tingkat motivasi belajarnya, maka motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dan dapat diberikan secara tepat.

Di dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, siswa dapat mengembangkan aktifitas dan inisiatif sehingga dapat mengarahkan dan memelihara kerukunan dalam melakukan kegiatan belajar.

 

  1. C.      KESIMPULAN

Dari semua uraian yang sebagaimana telah pemakalah jelaskan pada masing-masing pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran adalah berupaya mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik, menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.
  2. Faktor-faktor internal pembelajaran ada dua yakni dari Aspek Fisiologis dan Aspek Psikologis. Aspek Fisiologi adalah Kemampuan umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Adapun aspek psikologis di dalamnya terdapat lima unsur yakni,

a) kecerdasan/ inteligensi siswa adalah kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara tepat,

b) minat adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat,

c) bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang,

d) sikap siswa adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecendrungan untuk mereaksi atau merespon (respon tendency) dengan cara relatif tetap terhadap obyek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif, dan

e) motivasi adalah keadaan internal organism yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.

DAFTAR RUJUKAN 

Aunurrahman. Belajar dan Pembelajaran. 2010. Bandung : Alfabeta.

Azhari, Akyas.  Psikologi Pendidikan. 1996. Semarang : Dina Utama Semarang.

Bahri Djamarah, Syaiful.  Psikologi Belajar. 2002. Jakarta : PT Rineka Cipta.

H. M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan.1996.  Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.

Mahmud. Psikologi Pendidikan. 2010.  Bandung : CV Pustaka Setia.

Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar.2003.  Jakarta : PT RajaGrafindo.

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. 2010. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syah, Muhibbin.  Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, 2002. Bandung: Remaja Rosdakarya.


[1] Aunurrahman. Belajar dan Pembelajaran. 2010. Bandung : Alfabeta. Hlm. 35

[2] Muhibbin Syah. Psikologi Belajar.2003.  Jakarta : PT RajaGrafindo. Hlm. 145

[3] Syaiful Bahri Djamarah.  Psikologi Belajar. 2002. Jakarta : PT Rineka Cipta. Hlm. 155

[4] Ibid, Hlm. 155

[5] Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. 2010.Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Hlm. 131

[6]  Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar.2002.  Jakarta : PT Rineka Cipta. Hlm. 160

[7]  Muhibbin Syah.  Psikologi Belajar.2003.  Jakarta : PT RajaGrafindo. Hlm. 147

[8] Ibid, 147

[9]  Syaiful Bahri Djamarah.  Psikologi Belajar.2002.  Jakarta : PT Rineka Cipta. Hlm. 161

[10]  Muhibbin Syah. Psikologi Belajar.2003.  Jakarta : PT RajaGrafindo. Hlm. 151

[11]  Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar. 2002. Jakarta : PT Rineka Cipta. Hlm. 157

[12]  Ibid, hlm. 157

[13]  Ibid, hlm. 158

[14]  Ibid, hlm. 158

[15]  Ibid, hlm. 158

[16]  Ibid, hlm. 159

[17]  Muhibbin Syah. Psikologi Belajar.2003.  Jakarta : PT RajaGrafindo. Hlm. 150

[18]  Syaiful Bahri Djamarah.  Psikologi Belajar. 2002. Jakarta : PT Rineka Cipta. Hlm. 162

[19]  Ibid, hlm. 164

[20]  Ibid, hlm. 165

[21]  Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. 2010.Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Hlm. 133

[22]  Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar. 2002.  Jakarta : PT Rineka Cipta. Hlm. 165

[23]  Muhibbin Syah. Psikologi Belajar.2003.  Jakarta : PT RajaGrafindo. Hlm. 149

[24]  Muhibbin Syah. Psikologi Belajar.2003.  Jakarta : PT RajaGrafindo. Hlm. 123

[25] Mahmud. Psikologi Pendidikan. 2010.  Bandung : CV Pustaka Setia. Hlm. 100

[26] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, 2002.  Bandung : Remaja Rosdakarya. Hlm. 136

[27] H. M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan.1996.  Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya. h. 85

[28] Akyas Azhari, Psikologi Pendidikan. 1996. Semarang : Dina Utama Semarang. hlm. 75

[29] Muhibbin Syah, Op. Cit. h. 82

I. Latar belakang
Harun Nasution adalah sosok ilmuan Muslim yang amat berwibawa dan disegani oleh kalangan intelektual muslim, baik di dalam maupun luar negeri, dan sekaligus menjadi sumber timbulnya berbagai masalah yang menimbulkan perdebatan setiap kali orang mendengar namanya, yang terbayang adalah bahwa ia seorang mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang memiliki keahlian dalam bidang teologi dan filsafat yang bercorak rasional dan liberal. Dengan corak pemikiran teologinya yang demikian itu, Harun Nasution dikenal pula sebagai ilmuwan yang banyak mengemukakan gagasan dan pemikiran yang berbeda dengan pemikiran yang umumnya dianut umat Islam Indonesia. Melalui berbagai karya tulis yang dihasilkannya, Harun Nasution tidak hanya memperkenalkan teologi rasional dan liberal seperti Mu’tazilah dan Asy’ariyah yang banyak dianut umat Islam di Indonesia, melainkan juga memperkenalkan teologi yang rasional dan liberal seperti Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkand. Di dalam pergulatannya dengan berbagai paham aliran teologi tersebut serta hubungannya dengan kondisi social, ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan di Indonesia yang terbelakang, Harun Nasution lebih lanjut menunjukkan kecenderungannya kepada teologi Mu’tazilah. Harun Nasution melihat bahwa untuk mengatasi berbagai keterbelakangan umat Islam di Indonesia dalam berbagai bidang tersebut harus dilakukan dengan mengubah paham teologi yang dianutnya, yaitu dari paham teologi tradisional menjadi teologi yang rasional dan liberal. Kecenderungan yang demikian itu, membawa implikasi timbulnya tuduhan dari masyarakat pada umumnya kepada Harun Nasution sebagai Muslim yang terbaratkan, dan sekuler. Harun Nasution mendapatkan tuduhan sebagai Mu’tazilah yang tesesat.
Harun Nasution juga dikenal sebagai tokoh yang berpikiran terbuka. Ketika ramai dibicarakan tentang hubungan antar agama pada tahun 1975, Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang berpikiran luwes lalu mengusulkan pembentukan wadah musyawarah antar agama, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa saling curiga.
Gebrakan yang paling penting dilakukan oleh Harun untuk mengangkat umat Islam dan IAIN khususnya adalah mempelopori berdirinya Fakultas Pascasarjana dengan maksud untuk mencetak pemimpin umat Islam masa depan. Menurutnya, pemimpin harus rasiona, mengerti Islam secara komprehensi, tahu tentang agamja dan filsafat. Pemimpin seperti itulah yang diharapkannya lahir dari pascasarjana.
Usahanya untuk mengangkat lembaga pendidikan Islam (IAIN), terasa sangat luar biasa. Di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta misalnya,kehidupan intelektual akademisnya menjadi lebih hidup. Sekarang ini, jangankan Sutan Takdir Alisyahbana, tokoh intelektual yang jelas berbeda agama pun sudah sering berceramah di IAIN Ciputat, dan sudah dianggap hal biasa. Kondisi seperti itu juga telah mulai terbangun di seluruh IAIN di Indonesia.
Pembenahan yang dilakukan oleh Harun tidak hanya menyangkut mahasiswanya tetapi juga para dosen yang ada di lingkungan IAIN. Untuk meningkatkan mutu dosen, dibentuk forum diskusi regular mingguan dan bulanan sebagi media untuk memecahkan masalah-masalah krusial, yang di dalamnya berkumpul beberapa orang ahli di bidangnya masing-masing, baik dari IAIN maupun dari luar. Ia juga merintis terbitnya majalah yang dapat dijadikan sarana untuk menyalurkan gagasan, pikiran, dan ide para dosen dan mahasiswanya.
Beberapa usaha yang telah dilakukan oleh Harun dengan pembenahan berbagai sektor telah melahirkan satu citra IAIN sebagai pusat studi pembaruan pemikiran Islam. Obesesinya untuk menghadirkan IAIN sebagai pusat dan “arus lalu lintas” pemikiran-pemikiran keislaman dunia juga sangat di dukung oleh bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan memiliki pemerintahan yang memberikan tempat terhormat bagi usaha pembinaan umat beragama.
II. Riwayat Hidup Harun Nasution
Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada tanggal 23 September 1919. Beliau adalah putera keempat dari Abdul Jabbar Ahmad, seorang ulama serta pedagang, menjadi qadhi dan penghulu di Pematang Siantar. Ibunya adalah keturunan ulama Mandailing, Tapanuli Selatan.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar, Holland-Inlandsche School (HIS) pada tahun 1934, ia melanjutkan studi Islam ke tingkat menengah yang bersemangat modernis, Moderne Islamietiesche Kweekcshool (MIK) di Bukittinggi dan tamat pada tahun 1937. Kemudian melanjutkan studinya ke Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir dan memperoleh Ahliyah, pada tahun 1940 dan Candidat dari Fakultas Ushuluddin pada tahun 1942. Di Mesir ia juga memasuki Universitas Amerika, Kairo dan memperoleh gelar Bachelor of Art (BA) dalam Studi Sosial pada tahun 1952.
Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1953, Harun Nasution bertugas di Departemen Luar Negeri Bagian Timur Tengah. Selama tiga tahun, sejak tahun 1955 bertugas di Kedutaan Republik Indonesia di Brussel dan banyak mewakili berbagai per-temuan, terutama karena kemampuannya berbahasa Belanda, Perancis serta Inggris. Harun Nasution ke Mesir melanjutkan studinya di al-Dirasah al-Islamiyyah namun terhambat biaya, maka studinya tidak dapat dilanjutkan. Akhirnya ia menerima beasiswa dari Institut of Islamic Studies McGill di Montreal Kanada. Sehing-ga pada tahun 1962 ia melanjutkan studi di Universitas McGill, Montreal Kanada. Pada tahun 1965, Harun Nasution memperoleh gelar Magister of Art (MA) dalam Studi Islam dengan judul tesisnya The Islamic State in Indonesia: The Rise of The Ideology, The Move-ment for Its Creation and The Theory of The Masjumi pada tahun 1965. Tiga tahun kemudian, tahun 1968, ia meraih gelar Doktor (Ph.D) dalam bidang dan almamater yang sama dengan disertasi yang berjudul The Place of Reason in Abduh’s Theology: Its Impact on His Theological System and Views.
Pada tahun 1969, Harun Nasution kembali ke tanah air serta berkiprah dalam bidang akademis sebagai dosen pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta. Di samping itu Harun Nasution menjadi dosen luar biasa di IKIP Jakarta (sejak 1970), Universitas Nasional Jakarta (sejak 1970) dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta (sejak 1975). Kegiatan akademis ini dirangkapnya dengan jabatan rektor pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama 11 tahun (1973-1984), menjadi Ketua Lembaga Pembinaan Pendidikan Agama IKIP Jakarta dan terakhir menjadi Dekan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak tahun 1982.
Harun Nasution dikenal sebagai seorang intelektual muslim yang banyak memperhatikan pembaruan Islam dalam arti yang seluas-luasnya, tidak hanya terbatas pada bidang pemikiran saja seperti teologi, mistisisme (tasawuf) dan hukum (fiqh), akan tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan kaum muslimin. Harun Nasution berpendapat bahwa keterbelakangan umat Islam tak ter-kecuali di Indonesia adalah disebabkan oleh lambatnya mengambil bagian dalam proses modernisasi dan dominannya pandangan hidup tradisional, khususnya teologi Asy’ariyah. Hal itu menurut-nya harus diubah dengan pandangan rasional, yang sebenarnya telah dikembangkan teologi Mu’tazilah. Karena itu reaktualisasi dan sosialisasi teologi Mu’tazilah merupakan langkah strategis yang harus dilakukan, sehingga umat Islam secara kultural siap terlibat dalam pembangunan dan modernisasi dengan tetap berpijak pada tradisi sendiri.
III. Konsep Pendidikan Harun Nasution
Konsep pendidikan menurut Harun Nasution harus disesuaikan dengan konsep manusia menurut Al-Qur’an dan hadis.
Konsep manusia menurut ajaran Islam, bukan hanya terdiri dari tubuh, seperti yang terdapat dalam filsafat materialisme, tetapi tersusun dari unsur jasmani dan ruhani. Dalam pada itu unsur ruhani bukan pula terdiri hanya dari daya intelek seperti yang terdapat dalam filsafat Barat, tetapi daya berpikir yang disebut akal dan daya merasa yang disebut kalbu.
Dengan demikian manusia tersusun dari dua unsur, unsur materi (jasmani atau tubuh) dan unsur immateri (ruh). Tubuh manusia berasal dari tanah di bumi, sedangkan ruh manusia berasal dari substansi immateri di alam gaib. Tubuh mempunyai daya-daya fisik atau jasmani, seperti mendengar, melihat, merasa, mencium, dan daya gerak seperti menggerakkan tangan, kaki, kepala, dan lain-lain. Sedangkan ruh yang juga disebut al-nafs mempunyai dua daya, yakni daya berpikir yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya rasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada.
Akal dikembangkan melalui pendidikan sains dan daya rasa melalui pendidikan agama. Dalam sistem pendidikan semacam ini pendidikan agama mempunyai kedudukan yang pentingnya sama dengan pendidikan sains. Keduanya merupakan bagian yang esen-sial dan integral dari sistem pendidikan umat. Tidak tepat jika di dalam pendidikan agama menomorduakan pendidikan sains dan tidak tepat pula jika pendidikan sains dianakemaskan dan pendidi-kan agama dianaktirikan. Keduanya harus dipandang sebagai anak emas. Pandangan ini mirip dengan pandangan Fazlur Rahman tentang sistem pendidikan. Karena memang pendidikan dalam pandangan Islam adalah mencetak manusia yang saleh.
Khusus mengenai pendidikan agama, baik di lembaga pen-didikan umum maupun agama, Harun Nasution menjelaskan bahwa yang dibutuhkan adalah pendidikan agama dan bukan pengajaran agama. Yang dipraktekkan pada umumnya di perguruan-perguruan kita, baik umum maupun agama selama ini adalah “pengajaran agama” dan bukan “pendidikan agama.” Yang dimaksud dengan “pengajaran agama” ialah pengajaran tentang pengetahuan keaga-maan kepada siswa dan mahasiswa kita, seperti pengetahuan ten-tang tauhid atau ketuhanan, pengetahuan tentang fiqh, tafsir, hadis dan sebagainya. Di antara pengetahuan-pengetahuan yang biasanya dipentingkan adalah fiqh dan itu pun pada umumnya hanya ber-kisar di sekitar ibadah terutama shalat, puasa, zakat dan haji.
Dengan demikian apa yang disebut pendidikan agama dalam sistem pendidikan di perguruan kita, bukan bertujuan menghasilkan siswa dan mahasiswa yang berjiwa agama, tetapi mahasiswa yang berpengetahuan agama. Padahal berbeda antara yang berpengetahuan agama dengan orang yang berjiwa agama. Kelihatannya di sinilah yang menjadi salah satu penyebab timbulnya kemerosotan akhlak yang terjadi sekarang ini dalam masyarakat kita.
Padahal inti ajaran Islam adalah moral atau akhlak yang mulia. Ibadah-ibadah mahdah yang diajarkan Islam pun pada dasarnya merupakan pendidikan akhlak yang mulia pula. Bahkan Muhammad saw diutus ke dunia dalam rangka memperbaiki akhlak yang mulia ini.
Dengan demikian, bahan pendidikan agama di sekolah umum sebaiknya didasarkan pada tujuan moral, spiritual, dan intelektual. Sebaliknya tujuan pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan agama seharusnya bukan lagi hanya menghasilkan aga-mawan dan ulama tanpa predikat tertentu, tetapi ulama yang berpikiran luas, rasional, filosofis, dan ilmiah, serta teologi rasionalnya, sebagai ganti dari ulama yang berpikiran tradisional yang pada umumnya dihasilkan lembaga-lembaga pendidikan Islam selama ini. Untuk menghasilkan ulama yang berpengetahuan luas, rasional, filosofis dan ilmiah itu, maka kurikulum mulai madrasah ibtidaiyah hingga perguruan tinggi agama, harus disusuri atas mata pelajaran yang dapat mencapai tujuan itu.
Dalam kaitan ini menurut Harun Nasution, pendidikan tradisional harus diubah, dengan memasukkan mata pelajaran-mata pelajaran tentang ilmu pengetahuan modern (sains) ke dalam kuri-kulum madrasah. Juga mendirikan sekolah-sekolah modern di samping madrasah-madrasah yang telah ada, sehingga dapat memproduk ahli-ahli Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk mewujudkan gagasannya itu, pada tahun 70-an dan 80-an, Harun Nasution mengadakan reformasi fundamental ter-hadap IAIN. Menurutnya, sesuai dengan hakekat penciptaan manu-sia, maka sarjana muslim atau ulama yang harus dihasilkan oleh IAIN adalah sarjana muslim atau ulama yang berkembang akal dan daya pikirnya serta halus kalbu dan daya batinnya. Dengan kata lain, sarjana atau ulama yang dihasilkan IAIN harus-lah sarjana muslim dan ulama pengetahuannya bukan hanya terbatas pada pengetahuan agama saja, tetapi juga mencakup apa yang lazim disebut pengetahuan umum, serta akhlak dan budi pekerti yang luhur.
Karena itulah dosen-dosen IAIN tidak dikirim ke Mesir me-lainkan ke dunia Barat untuk mempelajari Islam dari segi metodologinya serta cara berpikir rasional, sehingga mereka akan dapat menjadi ulama yang berpikir rasional.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa pemikiran Harun Nasution tentang pendidikan merupakan usaha beliau me-wujudkan tujuan pendidikan Islam agar dapat mewarnai keber-agamaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula pandangannya tentang ajaran dasar dan non dasar, bukanlah untuk membingungkan umat Islam Indonesia, namun justru mengantar-kan umat kepada pemahaman terhadap ajaran Islam secara utuh serta mengeleminir terjadinya konflik akibat klaim kebenaran setiap kelompok dalam masyarakat Islam. Paham rasional Harun Nasution tidak identik dengan rasionalisme dalam filsafat Barat, namun beliau ingin menunjukkan bahwa sebenarnya ajaran Islam itu rasional dan sekali lagi beliau tidak bermaksud merasionalisme-kan ajaran Islam.
IV. Pemikiran Harun Nasution tentang Pendidikan Tinggi Islam
Kesadaran akan kebutuhan pendidikan kini cenderung meninggi. Pendidikan secara universal dapat dipahami sebagai upaya pengembangan potensi kemanusiaan secara utuh, dan peranan nilai-nilai sosial budaya yang diyakini oleh sekelompok masyarakat agar dapat dipertahankan hidup dan kehidupan secara layak. Secara lebih sederhana, pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses yang diperlukan untuk mendapatkan kesinambungan dan kesempurnaan dalam perkembangan kemanusiaan (humanity).
Apa yang dilakukan Harun Nasution pada awal 1970-an di IAIN merupakan suatu perubahan yang luar biasa, di mana budaya dan tradisi akademik ketika itu jauh dari tradisi ilmiah, berfikir kritis sekaligus demokratis. Langkah pertama Harun Nasution menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah mengubah kurikulum. Kurikulum IAIN selama ini tidak mencerminkan pengembangan pemikiran mahasiswa, karena tidak ada mata kuliah yang dapat mendorong ke arah itu. Ia mengusulkan agar mata kuliah, seperti pengantar ilmu agama, filsafat, tasawuf, teologi dan sebagainya dimasukkan dalam ilmu. Menurutnya, kurikulum adalah sederetan rencana mata kuliah dan pengaturannya yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan konsep kurikulum pendidikan tinggi yang lebih menekan kepada seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan mata pelajaran serta cara yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Pengertian kurikulum ini diimplementasikan dalam suatu rencana kegiatan formal yang dilaksanakan di sekolah sehingga kegiatan di luar sekolah tidak termasuk dalam pengertian kurikulum. Akan tetapi ahli pendidikan yang lain mengartikan kurikulum bukan hanya terbatas kepada kegiatan yang direncanakan, tetapi semua peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah. Pengertian kurikulum kedua ini meliputi kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler. Harun Nasution lebih memilih pengertian secara mikro. Kurikulum dirumuskan berdasarkan tujuan pendidikan Islam, tujuan Islam dirumuskan berdasarkan tujuan hidup manusia, tujuan hidup dirumuskan berdasarkan hakekat manusia, hakekat manusia menurut Islam dapat diketahui berdasarkan konsep al-Qur’an dan al-Sunnah. Hakekat manusia menurut Islam adalah makhluk ciptaan Allah. Prinsip Islam dianggap makhluk yang diciptakan-Nya, termasuk manusia.
Dalam proses kehidupan, manusia lahir dari kandungan ibu, rahim ibu tempat yang cocok untuk bertemunya sperma dan ovum yang mengalami proses sunnatullah menjadi manusia. Dengan demikian menurut Harun Nasution, sebenarnya tersusun dari tiga unsur, yaitu unsur materi yang hidup dan berkembang dalam rahim ibu, unsur hayat yang berasal dari sperma dan ovum dan unsur roh. Harun Nasution berpendapat bahwa roh manusia mempunyai dua daya, daya berpikir yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya merasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada. Daya pikir dan daya perasa yang membawa manusia kepada kesempurnaan yang layak sebagai khalifah di bumi. Peran Harun Nasution dalam mengembangkan IAIN Jakarta sangat besar. Menurut Ahmad Sjadali, pengabdiannya di IAIN Jakarta telah menyatu dan tidak dipisahkan. Ia telah membawa citra IAIN Jakarta sebagai pusat studi pembaharuan pemikiran Islam. Citra IAIN ini ditegaskan dalam seminar tentang identitas IAIN Jakarta pada tahun 1987 yang diselenggarakan dalam rangka lustrum menegaskan diproklamasikannya IAIN Jakarta sebagai pusat studi pembaharuan Islam di tanah air. Menurut Azyumardi Azra dalam kapasitasnya sebagai rektor, Harun Nasution ingin menjadikan IAIN Jakarta sebagai pusat modernisasi kaum muslimin. Untuk mencapai tujuan tersebut pertama, ia melancarkan pembaharuan dengan melakukan restrukturisasi kurikulum IAIN secara keseluruhan. Ia memperkenalkan beberapa mata kuliah yang selama ini tidak/kurang dikenal di lingkungan IAIN.93 Kesenjangan perkembangan ilmu umum dan ilmu agama, menurut Harun Nasution terletak pada metode berfikir. Di lembaga-lembaga pendidikan umum, bidang sains dipergunakan metode pemikiran ilmiah, sedangkan dibidang agama masih banyak memakai metode berpikir tradisional dengan teori teologi tradisionalnya. Oleh karena itu perlu dirubah metode berpikir tradisional dan diganti dengan metode berpikir rasional dan ilmiah, sehingga dengan demikian, IAIN dapat menghasilkan ulama yang berpikiran luas, rasional, filosofis dan ilmiah dengan teologi rasional.

V. Kesimpulan
1. Dalam pandangan Harun Nasution, pendidikan Islam harus diarahkan untuk perwujudan tujuan pendidikan itu sendiri, yakni mencetak manusia yang bertakwa atau manusia yang berakhlakul karimah. Sebab itu sistem pendidikan yang dilaksanakan bukanlah “pengajaran agama,” melainkan “pendidikan agama.” Di samping itu, khusus untuk IAIN beliau mengharapkan agar alumninya tidak saja ahli di bidang agama, namun juga memiliki pengetahuan umum dan akhlak.
2. Harun Nasution adalah seorang pembaharu pendidikan tinggi Islam di Indonesia, yang kontribusinya terhadap perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Kematangannya dalam lapangan keagamaan, membuat ide-ide dan gagasannya diminati dan ia semakin mapan menempatkan dirinya sebagai pembaharu yang rasionalis, obyektif dan kritis, meskipun untuk itu, ia harus membayar mahal seperti dituduh Mu’tazilah, mengacaukan bangunan tradisi pemikiran Islam yang sudah mapan, bahkan dituduh keluar dari Islam. Dan sangat konsisten menyuarakan pluralistik approach dalam memahami Islam dan berakar kuat di lingkungan IAIN dewasa ini.

Daftar Pustaka
http://rievaz.wordpress.com/2007/12/25/harun-nasution-ajaran-dasar-dan-non-dasar-paham-rasional/ diakses pada tanggal 14 april 2011.
http://satiafauziah.blogspot.com/2010/05/pemikiran-harun-nasution.html diakses pada tanggal 14 april 2011.
Nasution, Harun Nasution. Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan Cet. V, Jakarta: UI Press, 1986
Sigit Jatmiko, dkk. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya Dengan Kondisi Sosio Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang. Cet. I, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Nasution, harun. Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran. Cet. VI, Bandung: Mizan, 2000.
Aam Fahmia. Gelombang Perubahan Dalam Islam Studi Tentang Fundamentalisme Islam. Cet. II, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Nasutin, harun. Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Cet. IX, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Hidayat , komaruddin dan Hendro Prasetyo, Problem dan Prospek IAIN Antologi Pendidikan Tinggi Islam (Jakarta: Ditjen Binbaga Islam Departemen Agama, 2000.
Suminto, Aqib, dkk. Refleksi Pembahanian Pemikiran Islam. 70 Tahun Harun Nasution , Jakarta: LSAF, 1989
Hamalik ,Oemar, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Dasar dan Strategi Pelaksanaannya diPerguruan Tinggi , Jakarta: Triganda Karya, 1994.
Nasution, S. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: PT Bina Aksara. 1989.
Tim Dosen IAIN Sunan Ampel Malang, Dasar-Dasar Kependidikan Islam, Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya: Karya Abditama, 1996.

Hello world!

Posted: April 28, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.